Pada waktu itu saya bertemu dengannya hanya untuk masalah urusan
asuransi. Tapi nyatanya tidak. Apa yang aku rasakan saat itu adalah, ia penuh
dengan kepalsuan. Hidupnya sama sekali dipenuhi mendung dan bukan menjadi diri
sendiri. Entah apa yang terjadi padanya, aku harus melihat itu semua.
Terkadang aku bingung saat orang harus melihatku dalam kondisi yang
aneh. Melihatku dalam sesuatu yang sungguh amat berbeda pada umumnya. Kadang aku
bingung apakah aku mendapat gift dari Tuhan, atau sekedar kutukan karena orang
tua ku gagal? Aku pernah mencari jati diri hingga harus menyepi ke Yogya
sendirian. Tapi, aku berhasil menemukannya. Bertemu dengan tetua Biksu yang
luar biasa sepuh. Padahal saya adalah Nasrani, Katolik yang taat. Tapi sungguh
bersyukur bisa bertemu dengan Tetua Biksu itu. Ia benar-benar membuat saya tahu
akan artinya senyum:
“nak Aris, kau paham siapa dirimu? Semua memusuhi
bukan karena kamu aneh atau mengerikan. Kamu, diberikan kemampuan untuk bisa
melihat masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Itu kutukan? Menurutmu apa? Kutukan
jika kamu menggunakannya untuk menghancurkan orang lain, dan pemberian jika
kamu menggunakan untuk membantu orang lain. Mengapa kukatakan seperti itu? Saat
kita diberikan kekuatan dari Sang Kuasa, disitulah kita diuji. Diuji untuk melihat
apakah kita jahat atau menjadi baik. Menjadi baik, aka nada berkah dan
pahalanya, jika jahat, kamu akan menerima karmanya. Apa yang buat orang lain
menjauhi mu? Kau harusnya tahu, karena mereka punya AIB. Aib rahasia yang
sungguh mengerikan, menjijikan, bahkan tidak pantas untuk didengar siapapun. Kau
pun pasti tahu akan hal itu. Itulah mereka menjauhimu karena takut kamu akan
bongkar semuanya. Tapi ingat, orang yang melepas masa lalu aibnya, ia adalah
orang yang pantas kamu lindungi. Orang yang ingin melepas semua masa lalunya,
itu adalah orang yang akan menjadi tanggung jawabmu. Kamu harus bisa membantu
orang itu. Di dunia ini, hanya sedikit yang seperti itu. Mereka tertumpuk dalam
kepalsuan dan akhirnya hidup membaur dengan para topeng. Mereka yang terbiasa
palsu tetapi butuh pertolongan dalam hidupnya, tapi mencoba bertahan dengan
topeng tersebut. Gunakan kemampuanmu, gunakan untuk mendobrak mereka ke dalam
hatinya. Pulihkan mereka, buat mereka bisa bangkit lagi. Tapiiii……”
Tapi apa
Biksu? Apakah ada hal ganjil?
“hidupmu, cahayamu memudar…..kau diliputi kelamnya
dunia gelap. Kau harus bisa menyembuhkan keganjilan itu. Jika tidak, kau
hanyalah sia2 menolong orang lain Nak Aris. Mereka yang sudah kau tolong, kelak
mereka tak akan bisa menerima kepergianmu karena rasa kehilangan yang mendalam.”
Menurutku,
itu tidak apa Biksu, bagiku, saat aku memudar, aku harus pergi ke Barat…menuju
tanak kekal terjanji yang sudah dijanjikan Ilahi. Guru, kau tahu, harus bisa
yang namanya bersyukur dan ikhlas menghadapi itu semua. Aku dapatkan dari mana?
Dari Guru yang barusan mengajariku. Aku harus kembali, dan harus membantu orang
yang guru maksud.
“nak, tapi seiring itu, kemampuanmu akan hilang
karena keganjilan itu? Kau harus tetap semangat menjalani kehidupan. Tidak pantang
menyerah dan selalu mencoba melawan”
Guru,
waktuku sempit, aku harus bisa menjalani semangat ini dengan caraku, penyakitku
ini, biarlah ia yang menyerang. Selagi aku punya semangat, aku tidak takut
apapun.
Setelah bertemu dengan Biksu itu, seminggu kemudian saya pulang dalam
keadaan tenang batin. Seperti sebuah jawaban yang saya cari. Hanya bisa
berkata, terima kasih Biksu yang amat membuat saya tahu artinya semangat dan
senyum.
Akhirnya, sebisa mungkin, aku harus bisa memberikan jalan keluar bagi
mereka yang kesulitan. Tidak peduli tubuhku rusak atau hancur, yang penting,
jangan sampai orang yang kita tolong, hatinya hancur karena gagal atau tidak
mau menolongnya.
Aristo Pratama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar