Banyak diantara manusia yang salah paham atau salah
perespsi. Perbedaan pendapat memang bukan hal yang biasa terjadi. Bahkan dengan
perbedaan pendapat bisa menyatukan banyak manusia untuk menjalin suatu hal yang
tak biasa dilakukan. Perbedaan pendapat bukanlah kesalahan dalam hal yang bisa
dipahami atau dimenegrti sesama manusia. Yang menjadi persoalan adalah,
berbagai tatanan atau susunan bahasa dan intonasi nada yang tidak biasa atau
tidak bisa diterima individu. Indonesia memang terdiri dari beragam budaya dan
bahasa. Memang bahasa yang dipakai yaitu bahasa Indonesia, tetapi, perhatikan
baik-baik intonasi nada dari setiap suku bangsa. Misalnya dimulai dari suku di
daerah Sumatera yang terkenal yaitu Melayu, dimana membuat perbedaan dari
intonasi nada seolah berasal dari negara tetangga malaysia dan sulit memahami
antara bahsa Indo dengan melayu. (contoh: Cakap dalam bahasa Melayu artinya
bicara dan menurut Indonesia artinya rupa fisik yang menawan. Jadi saat dibilang
cakap jelas orang Indo akan menjawab makasih). Misalnya lagi dari suku Batak
dimana intonasi nada yang memang budaya sana menganggapnya sebagai orang yang
keras. Tetapi, itu semua salah jika kalian tidak tahu latar belakang suku lain.
Ingat, suku batak memang intonasinya keras dan terkesan mengajak ribut, tetapi
arti dibalik itu semua adalah ketegasan dan harga diri serta perilaku dalam
berbahasa yang jelas pengucapannya saat bicara ke orang lain.Bagi orang tidak biasa, tetapi bagi suku batak sendiri, memang itu budaya turun temurun. Misalnya lagi dari suku Jawa Yogyakarta dan Surakarta, dimana susunan bahasa yang tidak boleh ada intonasi keras kepada yang lebih tua. Bahsa yang digunakan halus (medok), terstruktur dan rapi pengucapannya. Hal ini dilakukan bagi kaum Jawa, kesopanan, ramah tama dan santun, harus hadir saat bicara dengan siapapun. Karismapun akan terlihatsaat bicara dengan tegas dan lantang (pada suku Batak) dan formal santun (pada suku Jawa). Misalnya lagi pada kaum timur yaitu suku daerah timur, Ambon, Irian dan Papua sekitarnya. Nada bicara yang menurut suku lain seperti orang yang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Haduhhhhh pada dasarnya suku Ambon dan wilayah Indonesia timur dan sekitarnya adalah orang yang tidak memikirkan basa basi. Hanya saja, mereka lebih suka to do point dalam berbicara agar tidak memakan waktu dalam kegiatan mereka sehari-hari. Bagi mereka, nada bicara yang langsung ke topik memang sudah mendarah daging. Tetapi, nada bicara mereka memang tidak bisa diubah dari sana. Pengucapan serta sisipan yang tidak dimengerti, itulah makna sopan santun dan ramah tamah saat bicara dengan orang lain.
Hal ini bicara dengan persoalan beda pendapat dari intonasi.
Banyak dari kaum muda yang sangat sukar menegrti atau sensitif dengan intonasi
nada bicara. Mendengar teman yang bicara keras seolah mengajak ribut. Intonasi yang
cepat dan keras terkesan mengajak ribut dan melukai hati. Terkadang bingung
menjadi penengah apa yang harus dilakukan agar permasalahan mereda. Masalahnya yang
satu dalam bicara merasa tak salah karena hal itu sudah biasa dilakukan di
tempat asalnya. Tetapi yang menerima, menjadi dendam, sakit hati dan
menjelekkan nama yang membuat sakit hati. Hingga merasa yang bicara dengan nada
yang sudah biasa menjadi ikut tak terima lantaran hanya bicara biasa saja
menjadi masalah yang luar biasa.
Hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa mengenal
budaya tidak hanya luar negeri saja. Bahkan di luar negeri pun berbeda
budayanya. Misalnya di Amerika Serikat, dimana angguk kepala dianggap aneh,
atau sekedar say hello pada orang lain dianggap kurang waras. Disana tidak
memakai istilah kak, bang, mas, mbak atau embel memanggil yang lebih tua. Hanya
kata sir untuk lelaki yang lebih tua atau berpengalaman atau senior dan
miss/mam untuk wanita yang lebih tua. Dalam pergaulan dengan sesamamanya atau
senior yang beda setahun dua tahun cukup memanggil nama sudah cukup. Memang memakai
brother sister sebagai embel manggil ke yang lebih tua adalah norma Indonesia,
tapi, beda negara, beda budaya dan harus patuh pada budaya di sekitarnya dong. Bagi
kaum eropa, memakai brother atau sister adalah komunitas sekter tertentu yang
dianggap sesat dan tidak waras. Beda lagi di negara Jepang atau Korea dimana
ada embel di belakang nama seseorang yang dipanggil sebagai bagian bentuk rasa
sopan dan hormat. Bagi kaum timur khususnya Korea dan Jepang, memanggil embel
di belakang adalah budaya hormat pada orang lain dan tidak seenaknya
mengucapkan nama pada orang lain sebagai bentuk lelucon. Tetapi nama bagi kaum
timur adalah hal yang istimewa dan diutamakan.
Berbeda dengan Indonesia yang masih Berkembang dimana norma
dan budaya yang beragam dan begitu banyak saja, tidak mau dipahami dan lebih
mengutamakan diri sendiri dibanding budaya orang lain. Misalnya saja, saat
sedang berada di kota yang beda suku dan budaya saja, masih aja ada orang yang
tidak mengikuti jalannya budaya dan tutur bicara pada orang lain, hingga banyak
di status media sosial bermasalah dengan seseorang yang begitu keras kepala
tersebut. Hal aneh lainnya adalah, bagi mereka yang punya jabatan tinggi, entah
Dewan, Pemimpin Agama dan Petinggi lainnya yang harusnya bisa memakai bahasa
dan tutur bicara yang baik, tidak dipahami atau dipelajari sehingga banyak
beberapa yang sakit hati dengan petinggi tersebut, uniknya, petingginya gak mau
tahu karena itu urusan pribadi kenapa mudah sakit hati. Harusnya juga sama-sama
belajar untuk bisa memakai budaya dan mempelajari budaya lain agar bisa berbaur
dengan yang lain.
Terakhir untuk mereka yang sangat sensitif karena berasal
dari budaya yang mudah terluka hatinya. Jangan Cuma memikirkan diri sendiri
saja. Karena diri sendiri harus belajar dari kerasnya dunia yang begitu kejam
dan sesuai sama skenario sinetron. Bahkan di media sosial banyak berkata soal
topeng dan aktor dalam drama queen. Saya sih Cuma berharap. Status yang Cuma dibuat
karena uneg yang tidak tertahankan, dan menunggu waktu karena pembelaan apapun,
artinya sudah jelas, TIDAK PERNAH MAU BELAJAR BUDAYA DAN PERILAKU ORANG LAIN. Ingat,
tiap orang berbeda dan gak bisa sama. Saat kamu sakit hati karena drama,
perilaku atau nada bicara orang lain, saat itulah ketidak dewasaan dan kupernya
diri anda yang tak bisa memahami orang lain.
Demikian curhat dari Aris, Sampai Jumpa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar