Secret

Rabu, 20 Mei 2015

BAHASA DAN INTONASI NADA BICARA DI INDONESIA

     Banyak diantara manusia yang salah paham atau salah perespsi. Perbedaan pendapat memang bukan hal yang biasa terjadi. Bahkan dengan perbedaan pendapat bisa menyatukan banyak manusia untuk menjalin suatu hal yang tak biasa dilakukan. Perbedaan pendapat bukanlah kesalahan dalam hal yang bisa dipahami atau dimenegrti sesama manusia. Yang menjadi persoalan adalah, berbagai tatanan atau susunan bahasa dan intonasi nada yang tidak biasa atau tidak bisa diterima individu. Indonesia memang terdiri dari beragam budaya dan bahasa. Memang bahasa yang dipakai yaitu bahasa Indonesia, tetapi, perhatikan baik-baik intonasi nada dari setiap suku bangsa. Misalnya dimulai dari suku di daerah Sumatera yang terkenal yaitu Melayu, dimana membuat perbedaan dari intonasi nada seolah berasal dari negara tetangga malaysia dan sulit memahami antara bahsa Indo dengan melayu. (contoh: Cakap dalam bahasa Melayu artinya bicara dan menurut Indonesia artinya rupa fisik yang menawan. Jadi saat dibilang cakap jelas orang Indo akan menjawab makasih). Misalnya lagi dari suku Batak dimana intonasi nada yang memang budaya sana menganggapnya sebagai orang yang keras. Tetapi, itu semua salah jika kalian tidak tahu latar belakang suku lain. Ingat, suku batak memang intonasinya keras dan terkesan mengajak ribut, tetapi arti dibalik itu semua adalah ketegasan dan harga diri serta perilaku dalam berbahasa yang jelas pengucapannya saat bicara ke orang lain.

Bagi orang tidak biasa, tetapi bagi suku batak sendiri, memang itu budaya turun temurun. Misalnya lagi dari suku Jawa Yogyakarta dan Surakarta, dimana susunan bahasa yang tidak boleh ada intonasi keras kepada yang lebih tua. Bahsa yang digunakan halus (medok), terstruktur dan rapi pengucapannya. Hal ini dilakukan bagi kaum Jawa, kesopanan, ramah tama dan santun, harus hadir saat bicara dengan siapapun. Karismapun akan terlihatsaat bicara dengan tegas dan lantang (pada suku Batak) dan formal santun (pada suku Jawa). Misalnya lagi pada kaum timur yaitu suku daerah timur, Ambon, Irian dan Papua sekitarnya. Nada bicara yang menurut suku lain seperti orang yang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Haduhhhhh pada dasarnya suku Ambon dan wilayah Indonesia timur dan sekitarnya adalah orang yang tidak memikirkan basa basi. Hanya saja, mereka lebih suka to do point dalam berbicara agar tidak memakan waktu dalam kegiatan mereka sehari-hari. Bagi mereka, nada bicara yang langsung ke topik memang sudah mendarah daging. Tetapi, nada bicara mereka memang tidak bisa diubah dari sana. Pengucapan serta sisipan yang tidak dimengerti, itulah makna sopan santun dan ramah tamah saat bicara dengan orang lain.

     Hal ini bicara dengan persoalan beda pendapat dari intonasi. Banyak dari kaum muda yang sangat sukar menegrti atau sensitif dengan intonasi nada bicara. Mendengar teman yang bicara keras seolah mengajak ribut. Intonasi yang cepat dan keras terkesan mengajak ribut dan melukai hati. Terkadang bingung menjadi penengah apa yang harus dilakukan agar permasalahan mereda. Masalahnya yang satu dalam bicara merasa tak salah karena hal itu sudah biasa dilakukan di tempat asalnya. Tetapi yang menerima, menjadi dendam, sakit hati dan menjelekkan nama yang membuat sakit hati. Hingga merasa yang bicara dengan nada yang sudah biasa menjadi ikut tak terima lantaran hanya bicara biasa saja menjadi masalah yang luar biasa.

     Hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa mengenal budaya tidak hanya luar negeri saja. Bahkan di luar negeri pun berbeda budayanya. Misalnya di Amerika Serikat, dimana angguk kepala dianggap aneh, atau sekedar say hello pada orang lain dianggap kurang waras. Disana tidak memakai istilah kak, bang, mas, mbak atau embel memanggil yang lebih tua. Hanya kata sir untuk lelaki yang lebih tua atau berpengalaman atau senior dan miss/mam untuk wanita yang lebih tua. Dalam pergaulan dengan sesamamanya atau senior yang beda setahun dua tahun cukup memanggil nama sudah cukup. Memang memakai brother sister sebagai embel manggil ke yang lebih tua adalah norma Indonesia, tapi, beda negara, beda budaya dan harus patuh pada budaya di sekitarnya dong. Bagi kaum eropa, memakai brother atau sister adalah komunitas sekter tertentu yang dianggap sesat dan tidak waras. Beda lagi di negara Jepang atau Korea dimana ada embel di belakang nama seseorang yang dipanggil sebagai bagian bentuk rasa sopan dan hormat. Bagi kaum timur khususnya Korea dan Jepang, memanggil embel di belakang adalah budaya hormat pada orang lain dan tidak seenaknya mengucapkan nama pada orang lain sebagai bentuk lelucon. Tetapi nama bagi kaum timur adalah hal yang istimewa dan diutamakan.

     Berbeda dengan Indonesia yang masih Berkembang dimana norma dan budaya yang beragam dan begitu banyak saja, tidak mau dipahami dan lebih mengutamakan diri sendiri dibanding budaya orang lain. Misalnya saja, saat sedang berada di kota yang beda suku dan budaya saja, masih aja ada orang yang tidak mengikuti jalannya budaya dan tutur bicara pada orang lain, hingga banyak di status media sosial bermasalah dengan seseorang yang begitu keras kepala tersebut. Hal aneh lainnya adalah, bagi mereka yang punya jabatan tinggi, entah Dewan, Pemimpin Agama dan Petinggi lainnya yang harusnya bisa memakai bahasa dan tutur bicara yang baik, tidak dipahami atau dipelajari sehingga banyak beberapa yang sakit hati dengan petinggi tersebut, uniknya, petingginya gak mau tahu karena itu urusan pribadi kenapa mudah sakit hati. Harusnya juga sama-sama belajar untuk bisa memakai budaya dan mempelajari budaya lain agar bisa berbaur dengan yang lain.

     Terakhir untuk mereka yang sangat sensitif karena berasal dari budaya yang mudah terluka hatinya. Jangan Cuma memikirkan diri sendiri saja. Karena diri sendiri harus belajar dari kerasnya dunia yang begitu kejam dan sesuai sama skenario sinetron. Bahkan di media sosial banyak berkata soal topeng dan aktor dalam drama queen. Saya sih Cuma berharap. Status yang Cuma dibuat karena uneg yang tidak tertahankan, dan menunggu waktu karena pembelaan apapun, artinya sudah jelas, TIDAK PERNAH MAU BELAJAR BUDAYA DAN PERILAKU ORANG LAIN. Ingat, tiap orang berbeda dan gak bisa sama. Saat kamu sakit hati karena drama, perilaku atau nada bicara orang lain, saat itulah ketidak dewasaan dan kupernya diri anda yang tak bisa memahami orang lain.


Demikian curhat dari Aris, Sampai Jumpa.

Tidak ada komentar: