CHRISTMAS FAMILY
Keluargaku Penuh Syukur Dalam Hidup Ini

Hai para pembaca sekalian, apa arti kata Natal bagi kita semua? Apakah Natal masih ada yang bekerja? Ada yang masih sibuk sendiri? Kali ini, saya akan bercerita tentang tema Natal kali ini yaitu “Keluarga Natal Penuh Syukur”. Dalam Natal, hal paling penting adalah kebersamaan dengan keluarga masing-masing. Bukan pemberian kado Natal, Bingkisan, atau uang Natal. Tapi apa yang bisa kamu lakukan untuk keluargamu? Sedikit becerita tentang keluarga natal: ada seorang Ayah yang sibuk sekali bekerja, memang dari pekerjaan itu menghasilkan uang yang banyak, sehingga apapun yang diperlukan istri dan anak-anaknya sangat tercukupi dan tidak pernah berkekurangan sekalipun. Tapi saat Natal, sang Ayah tak pernah kunjung pulang dan selalu didatangi sang anak di perusahaannya dan tidak disambut hangat oleh sang Ayah di sana. Sang anak yang terdiri dari kakak dan juga adik yang baru berumur 15 dan 8 tahun datang untuk meminta Ayahnya untuk pulang dan makan bersama. Sang anak disuruh pulang oleh Ayah karena mengganggu kerjanya. Padahal, sang Ayah direktur utama, dan ia tidak memperbolehkan semua karyawannya untuk libur. Semua yang bekerja di sana, tidak dapat kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. Memang sang Ayah pernah berkata “semua dilakukan demi anak dan istri, bekerja itu untuk mencukupi kebutuhan dan masa depan anak dan istri saya. Tak akan saya biarkan anak dan istri saya melarat”. Karena sering berdoa dan ke Gereja, akhirnya sang Ayah didatangi oleh sosok Pastur yang rupawan dan berkata pada sang Ayah dan tak sengaja mendengar doa sang Ayah yang terdengar keras. Sang Ayah dan Pastur itu saling mengobrol dan Ayah menceritakan tentang kondisi yang dialami oleh dirinya. Kemudian Pastur tersebut hanya memberikan sebuah kalimat untuknya: “kamu orang baik, maka dari itu kelak apa yang kamu minta dari Bapaku, akan dikabulkan jika kamu percaya padaNya. Jangan pernyah menyerah dengan apa yang kamu alami, sebab Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kita”. Memang setelah itu keajaiban muncul hingga sang Ayah bekerja keras dan banting tulang hingga bisa menjadi direktur berkat semangat dan tidak pernah berhenti berdoa pada Tuhan. Akan tetapi, saat sudah di puncak, Ayah berubah menjadi sosok yang tidak pernah mau berdoa dan berkumpul lagi bersama keluarganya. Sibuk dengan uang dan harta bendanya untuk investasi jangka panjang. Kelahiran anak keduanya pun ia tidak pernah mengajaknya bermain hingga sampai sang anak kedua berumur 8 tahun. Beruntung sang anak pertama mengerti dengan kondisi yang dialami oleh keluarganya dan tidak pernah menceritakan pada siapapun.

Sang anak pertama yang setiap tahun sedih sedih karena Ayah tak pulang, selalu berdoa dan mengajak adiknya berdoa di Goa Maria untuk meminta pada Bunda Maria agar mengembalikan Ayah untuk pulang ke rumah. Sang Ibu setiap tahun tidak pernah se-ranjang lagi dengan sang Ayah. Hidupnya memang dia gunakan untuk mengurus anak saja. Setiap ia memasak dan menunggu suami pulang, sang suami tidak pulang sampai masakan yang dibuat istri menjadi dingin dan tidak sedap lagi dimakan. Setiap tidur sampai bangun pagi, suami tidak ada di rumah. Sampai di titik tertentu, sang istri masih kuat dan tidak jatuh karena terus berdoa dan percaya pada Tuhan. Setiap harinya doa Novena Salam Maria agar Natal tahun ini menjadi istimewa baginya, yaitu dengan menghadirkan suami yang kembali pulang untuk dirinya dan untuk anak-anak. Hari ulang tahun istri, dan kedua anaknya pun, suami tak kunjung pulang. Hanya bisa berdoa bertiga bersama di meja makan dan anak kedua berdoa sendiri dan mengucapkan “Tuhan, kenapa Ayah dibuat jauh dariku? Apakah dia sibuk untukMu Tuhan? Aku mau Ayah di sini bersamaku”. Anak pertamanya pun setelah selesai berdoa dan memulai makan, dirinya tidak bergairah untuk makan dan hanya memainkan makanan yang disajikan Ibunya. Anak pertama bercerita pada sang Ibu kalau ia ingin Ayahnya datang di acara kesenian yang diadakan oleh orang tuanya. Sang Ibu penasaran dengan kertas yang selalu dibawa oleh anak keduanya. Tetapi anak keduanya tersebut tidak mau memperlihatkan kertas tersebut pada sang Ibu. Hari demi hari sampai bulan berikutnya yaitu tepatnya bulan Desember dimana moment Natal hal penting bagi keluarga. Sampai saat itu juga, sang Ayah belum pernah berada di rumah, saat itu juga, sang anak keduapun sakit. Ibu dan kakak pertama yang panik, akhirnya membawanya ke rumah sakit. Sang Ibu memberitahu Sang Ayah kalau anak keduanya masuk rumah sakit dan sakit keras. Diketahui kalau anak kedua terkena Leukimia dan membutuhkan sumsum tulang sebagai penyembuhan bagi dirinya. Akan tetapi, sang Ayah, hanya berkata hal itu bukanlah hal darurat karena sang Ayah juga terkena masalah yaitu adanya penggelapan dana di perusahaan yang ia punya.

Sang Ibu hanya menangis dan kecewa dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. Sang anak pertama datang ke perusahaan Ayah, di saat itu Ayahnya emosi karena persoalan yang terjadi pada perusahaannya, ditambah oleh keadaan sang Istri yang komplain soal keadaan anak dan keluarganya, ia menjadi marah dan murka lewat telepon yang saat itu pula tak sengaja didengar oleh sang anak pertama dan mengatakan dirinya tak akan peduli atau pulang kembali ke rumah.
Seketika itu, sang anak hadir di depan ruangan sang Ayah, lalu ia hanya mengatakan satu kalimat: “Ayahku yang kuat dan hebat, jikalau aku tak bisa membuat waktu untuk kembali, aku hanya meminta satu hal boleh? Aku hanya ingin menjadi teman di saat Ayah sedang butuh orang untuk berbagi cerita dan tawa. Karena aku tidak membenci Ayah. Aku, hanya mau Ayah kembali, menemani kami semua. Ingat juga Ayah, jika Ibu berusaha tidak menerima Ayah kembali, aku hadir di depan untuk siap menjadi tameng bagimu, Yah. Bagiku, terima kasih, sudah menjadi Ayah yang pekerja keras untuk aku dan untuk kita semua”. Lalu anak pertama pulang dan kembali ke rumah sakit untuk menjaga sang adik. Sang adik yang terbaring lemah, menunggu dan bertanya kepada Ibu dan kakak pertama, kemanakah sang Ayah? Ayah hanya termenung dan menyesal atas apa yang ia lakukan terhadap keluarganya, istirnya dan kedua anaknya. Hidupnya tergiur oleh karena harta yang tidak abadi dan tidak pernah terpuaskan. Akhirnya ia menyusul ke rumah sakit yang ternyata sudah diberikan note di meja kerja sang Ayah oleh kakak pertama. Saat tiba, Ayah sudah mendapati kalau sang adik sedang diberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Ayah langsung memeluk sang adik dan menyesali semua yang ia lakukan.
Tetapi, sang adik menyerahkan sebuah kertas yang selalu ia bawa kemanapun dan tak pernah dilepas. Kertas itu tak pernah dilepas karena ingin diberikan kepada sang Ayah. Hanya, Ayah terlalu sibuk dengan urusan kerjanya. Dan yang mengejutkan adalah sang Ayah tersungkur jatuh dengan tulisan di secarik kertas itu yang bertuliskan:

“Ayah, jangan lupa berdoa dan percayakan kepada Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus, tidak akan meninggalkan kita walau kita terpisah jauh”. Hanya itu yang bisa dituangkan lewat tulisan oleh sang adik. Ayah kemudian bertanya kepada dokter adakah yang sangat cocok dengan tulang sumsum anak keduanya? Dokter hanya mencoba mengambil sampel dari Ayah, Ibu dan kakak pertama. Karena sudah berasa putus asa, sang Ayah barulah sadar ada yang tak bisa ia beli dengan uang, yaitu hidup anaknya. Untunglah di rumah sakit itu ada sebuah kapel dan goa Maria. Sang Ayah langsung berdoa, bersujud, menangis dan memohon kepada Tuhan untuk bertobat dan memperbaiki semuanya. Bagi Ayah, akan dia tebus semua bayarannya denan berkumpul bersama saat Natal nanti. Puji Tuhan, dokter mengatakan kepada keluarga ada yang cocok dengan tulang sumsum sang adik, yaitu Ayahnya. Tanpa ragu dan tidak peduli dengan biaya, sang Ayah langsung memutuskan operasi dan akhirnya, operasi berjalan dengan baik dan kondisi adik yang tidak terkena resiko dari operasi tersebut.

Kondisi adik sekarang sudah membaik dan bisa melakukan perawatan di rumah. Sayangnya, karena keadaan sang adik, semua dekorasi Natal dan persiapan untuk Natal, tidak bisa disiapkan karena keadaan sang adik yang membuat semua keluarga jadi panik. Untunglah, sang Ayah mendapatkan kesempatan di perusahaan yang bekerja sama dengan dekorasi dan persiapan Natal untuk segera menyiapkannya di rumah. Tak lupa juga, iya menyuruh seluruh karyawannya untuk libur sampai tahun baru tiba. Saat yang dinanti sudah datang, yaitu hari Natal. Betapa gembiranya sang adik dan kakak yang begitu histeris melihat sang Ayah mau ke Gereja bersama dan merayakan Misa Natal bersama, lengkap, se-keluarga. Setelah Misa, mereka pulang dan melakukan makan bersama. Sang Ayah berjanji, mulai saat ini, hidupnya pun akan lebih meluangkan waktu untuk bersama Istri dan kedua anaknya. Sang adik dan kakak akhirnya sukses dan mengatakan kepada kedua orang tuanya, kalau ia memohon kepada Tuhan untuk meminta satu hal, yaitu membeli waktu untuk bersama dengan keluarganya yang lengkap dan Ibu, memaafkan semua apa yang Suaminya lakukan, karena Tuhan bagi sang Ibu, adalah menjadi sosok gembala yang murah hati.

Para pembaca sekalian, hikmah yang bisa diambil dari cerita tersebut adalah, keluarga yang penuh syukur, mensyukuri segala hikmah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Kita harus bisa bersyukur seberat apapun masalah atau kondisi yang terjadi pada keluarga kita. Jangan pernah menceritakan masalah keluarga pada siapapun. Seperti belajar dari sang Kakak yang menutupi semua aib dan masalah yang terjadi pada keluarganya terutama sang Ayah pada siapapun. Baginya, masalah keluarga ya diselesaikan oleh keluarga itu sendiri. Belajar dari sang Ibu yang memaafkan segala hal yang diperbuat oleh orang lain. Sama seperti kita di hari Natal, yang saling memaafkan dan menebar kasih pada siapapun yang berbuat salah pada diri kita. Belajar dari sang Adik yang tidak pernah menyerah dalam hidup yang diberikan cobaan oleh Tuhan. Kalau ada masalah, jalan keluarga Cuma satu, berdoa dan meminta pertolongan pada Tuhan. Apapun yang terjadi, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan diri kita, dan yang terakhir belajar dari sang Ayah. Belajar untuk memahami dan meminta maaf jika kita ada salah. Meminta maaflah sebelum menyesal dan terlambat. Walau tidak ada salah? Setiap manusia pasti memiliki kesalahan, walau diciptakan sempurna, tetapi nyatanya tidak sempurna bukan? Memikirkan duniawi sampai lupa keadaan di rumah bahkan melupakan Tuhan saat sudah menjadi seseorang yang berada di puncak kesuksesan.
Sekian dulu deh dari saya, jangan lupa bersyukur atau segala apa yang diberikan oleh Tuhan. Ingat, Tuhan tak akan pernah meninggalkan dan memberikan cobaan pada kita melebihi kemampuan kita. Jadilah gembala yang murah hati, memaafkan dan berkumpul bersama keluarga sebagai bagian dari rasa syukur
Created By:
Aristo Pratama
Line ID: aristo_potter

Selamat Natal, Damai Kasih Tuhan Yesus, Beserta Kita Semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar