Secret

Selasa, 27 Oktober 2015

“CANTIK-CANTIK MOOD DISORDER” (Bagian 2)

LANJUTAN

BAGIAN 3
     Citra sangat merasa bahwa dirinya bukan tandingan dari cintanya Shanti. Baginya adalah Shanti lebih sempurna dan tidak ada yang mampu menandingi kecantikannya. Tetapi hal itu membuat dirinya terlihat menangis dan tertawa di tempat umum dan orang mengira dirinya adalah orang tidak waras. Selama seminggu baik di tempat kerja maupun di tempat ia nongkrong, Citra seperti orang yang tidak bisa mengontrol mood yang dia alami, menangis, marah dan kecewa menjadi satu. Gia sangat merasa tidak nyaman dengan melihat kondisi yang dialami oleh Citra. Iapun menyuruh William untuk mengawasi Citra, tentu saja dengan akting menangis agar William mau membantu adiknya sendiri.
     Sementara itu di komplek perumahan Citra, sebelum sampai rumah, Citra di lempari tepung, beras dan air kembang oleh Shanti dan teman genknya. Merasa kalau Citra aneh dan seperti gak waras, mereka tega melakukan hal seperti itu. Kebetulan William lewat dan baru pulang kerja dengan mobilnya dan melihat peristiwa itu, dengan panik dia keluar dari mobil dan berteriak layaknya orang murka. William langsung membuka jaket dan menutupi tubuh Citra yang basah dan lengket. Shanti pun marah dan jengkel dengan kelakuan William. Dengan cepat ia menarik lengan William dan menanyakan maksud menolong Citra yang menurutnya gadis aneh. Gia yang keluar karena melihat ada keributan langsung menghampiri Citra dan membawanya ke rumah untuk dibersihkan. Karena merasa Cuma ada teman-teman genk dan Shanti sendiri dengan William, Shanti langsung memegang dada William dan meremasnya lalu menanyakan apa yang kurang darinya. Dengan keheranan, Shanti membuka belahan bajunya agar William tertarik padanya. Tetapi William semakin kesal dan mengatakan kalau Shanti adalah wanita murahan. Dengan emosi, Shanti merobek baju William hingga tubuh atletisnya terlihat. Setelah itu dia memeluk William dan mulai bertindak nekad di luar perkiraan, yaitu mulai berusaha membuka celana jeans William dan William marah dan mendorong Shanti hingga terjatuh. Lalu William mengatakan kalau boleh mengganggunya tapi jangan mengganggu Citra. Dan kalau bisa untuk bersikap normal dan tidak melecehkan siapapun. William tahu kalau Shanti menyukainya karena tubuhnya. Setiap kali ke rumahnya, selalu merobek atau menyembukikan baju jika William ganti baju di rumahnya saat bermain ke rumah Shanti. William juga aneh karena selalu mendapat minuman yang membuatnya ngantuk berat atau kondisi tubuhnya panas hingga alat kelaminnya mengalami ereksi. Dengan kondisi seperti itu William masih memaafkan dan tidak mau melaporkan ke pihak berwenang sebagai bagian pelecehan seksual. Setelah itu William pulang untuk ganti baju, tetapi di luar perkiraan, malah Shanti berkata pada temannya apakah sudah merekam antara dirinya dan William tadi.

BAGIAN 4
     Sayang sekali jika Kira tidak berusaha membantu Shanti demi mendapatkan Citra. Alasan utama karena ia tahu gangguan mood bisa di serang dan dimanfaatkan, terlebih karena keluarga Citra kaya raya, kapan lagi bagi Kira untuk mendapatkan apa yang dia mau. Seminggu kemudian, Citra berani masuk sekolah karena baru pulih dari kondisi psikis yang tidak stabil. Seketika Kira langsung mendekati dan bersikap berpura-pura perhatian lebih padanya. Mengingat bahwa Citra merasa tidak nyaman karena diganggu setelah penyembuhan psikisnya, ia berusaha menolak dan mencoba menghindar tetapi trik Kira sangatlah licik, ia menyuruh Citra melihat video dari Kira dan pasti hebohkan dirinya. Seketika Citra melihat video itu dan Kira mengompori Citra dan berkata kalau William sangat bergairah dan menikmati indahnya tubuh Shanti. Awalnya Shanti gak mau tetapi William langsung nafsu padanya. William adalah seorang kecanduan pornoaktif yang akan bergairah jika melihat wanita sendirian. Setelah Kira menjelaskan seperti itu, Citra menangis dan terpukul melihat kondisi seperti itu. Seketika Kira mencari kesempatan untuk memeluk dirinya. Shanti yang melihat dari kejauhan merasa puas dan bangga atas apa yang dia lakukan dengan berusaha menghancurkan hubungan Citra dengan William. Citra yang merasa tahu hal itu, keesokan hari ia membawa alat penyetrum yang dia beli di toko-toko, untuk melindungi dirinya dari William.
     William tidak tahu akan hal itu dan saat melihat Citra dia langsung menyapa dan mendekatinya. Karena Citra panik langsung mengeluarkan alat penyetrum dan menodongkan ke William. William yang terkejut mencoba untuk menjelaskan ada apa dengan Citra dan menjelaskan maksud dari perlakuannya yang aneh. William mencoba mengerti pasti depresi dan emosi marahnya tidak stabil. Tetapi ternyata Citra mengatakan kalau William sakit jiwa dan suka memperkosa orang. William yang semakin terkejut dan menghela nafas sambil tertawa berusaha menjelaskan kalau itu semua bohong. Tidak senagaj memegang tangan Citra, Citra reflek dan menyalakan alat dan menodongkan ke dada William, sontak langsung terkejut dan kejang-kejang dan William pingsan di tempat. Karena panik, Citra berusaha untuk memberikan bantuan dengan usahanya sendiri, biasanya karena panik, emosinya tidak stabil dan berubah-ubah, tetapi karena niatnya menolong William, ia menjadi teratur emosinya, lalu berusaha mempompa dadanya dan memberi nafas buatan. Alhasil selama beberapa menit, William terbangun sambil terbatuk-batuk, melihat hal itu Citra tersenyum dan lega karena William tidak mengalami apapun. William langsung bertanya pada Citra biasanya panik dan berubah-ubah emosinya. Tetapi karena merasa ada niat menolong William hingga tanpa sadar emosinya terkontrol oleh karena ia menolong William. William pun menjelaskan kalau pasti ada salah paham. Citra menjelaskan video yang publish oleh Kira dan teman genknya Shanti sebenarnya awal untuk memperkosa dirinya karena Shanti dikenal sebagai orang yang sangat nafsu terhadap lelaki yang bertubuh atletis dan tinggi tegap. Citra yang salah paham menjadi sangat merasa bersalah dan memutuskan untuk meminta maaf atas perlakuan yang tadi ia perbuat ke William. Dengan tersenyum, William menghampiri dan duduk di rerumputan tempat terjatuh lalu mengusap dan berkata sama Citra kalau dirinya peduli dan sangat sayang padanya, saking sayangnya ia tak mau menjadi terapis karena merasa takut perasaannya tak bisa terpendam dan tidak fokus dalam menjalankan terapi pada Citra.


Bersambung....................................
BAGIAN 5
     William dan Citra sama-sama tak bisa tidur setelah mereka sampai di rumah. Perasaan yang bergejolak membuat mereka tak bisa tidur bahkan sampai pagi subuh mereka terus kepikiran akan hal dimana mereka tak bisa mengutarakan masing-masing perasaan mereka. Saat bangun, mereka lemas dalam beraktivitas. Saat datang ke kantor pusat dimana banyak psikolog berkumpul, William sempat ditanya apakah dia sakit atau tidak. Karena gengsi, ia malu nanti saat ditanya punya masalah soal cinta, padahal, dalam kasus kliennya saja, sudah banyak yang dia tangani dalam kasus urusan cinta. Masa iya dewa cinta punya masalah cinta yang tak bisa dia tangani? Hmmm, di sisi lainnya, Citra tidak fokus dalam mengerjakan kain yang sedang ia buat. Di tempat bordir saja, ia salah menuliskan nama dan menuliskan nama William terus dan terus di tempat kain yang ia buat. Melihat akan hal itu, teman-teman Citra memfoto kain tersebut dan mengirimkan kepada Gia. Gia sungguh kaget dan terkejut karena ia merasa William sama sekali keras kepala dan tak mau duluan mengutarakan perasaan hingga menggantungkan perasaan Citra sampai setiap jahit dan membentuk kain basah karena tetesan air matanya yang tak kunjung berhenti. Citra merasa untuk apa William menjelaskan kalau salah paham dengan Shanti tetap tak mengubah dirinya untuk mengutarakan perasaannya pada Citra.
     Sesampainya di rumah, Gia menceritakan kepada William kondisi yang dialami oleh Citra seperti apa. William tetap pada pendirian dimana ia tak akan mengutarakan kepada Citra agar ia bisa sembuh demi kode etik yang ia jalani. Baginya adalah, ia takut untuk jatuh cinta dan takut menyakiti orang yang ia cinta. Hal yang membuatnya merasa tak mampu apabila jika sembuh Citranya dan merasa William hanyalah terapisnya, itu malah membuat William semakin sakit. William tahu dirinya menyukai Citra sedari kecil dan tahu pula jika dia berbeda atau mengalami gangguan psikologi tersebut. Citra pun merasa William sejak kecil adalah pahlawan bagi dirinya, dari kecilpun pulang bersama naik sepeda karena jalan kaki cukup jauh dari rumah ke sekolahnya, lalu SMA terus naik motor bersama karena bersekolah di SMA yang sama, bahkan tahu siapa saja pacarnya Citra di SMA sampai akhir SMA dan pesta perpisahan, putus dengan pacarnya. Hingga di saat kuliahpun, William sempatkan diri untuk kuliah bareng dengan membawa mobil dan menjemput Citra bahkan sempat menjemputnya walau ada kegiatan kampus sampai malam hari. Walau beda jurusan kuliah, itu tidak membuat mereka punya waktu untuk bersama.
     Hingga hal yang membuat dirinya berbeda adalah saat Citra tak sengaja membaca buku “psikologi abnormal” punya William dan menjelaskan tentang gangguan mood yang persis dengan dirinya. Bahkan jika terus menerus terjadi, bisa menjadi pribadi yang lain dan bisa berubah jadi orang lain yang bukan dirinya, sekalipun membunuh orang yang dia cintai. Karena itu pun ia menjauhi William dan sengaja untuk menghilang agar ia tidak mengganggu William yang peduli padanya. Citra yang seorang perancang dan menjahit sendiri bajunya, memutuskan untuk cuti dan menghilang dari tempat kerjanya. Seluruh pekerja panik karena pasalnya, Citra adalah mode yang dikenal banyak dan menjadi maskot bagi perusahaan yang didonatur oleh keluarganya sendiri. Orang tua Citra yang panik, meminta bantuan dan pertolongan pada keluarga William. Karena sudah seperti sahabat sendiri, ayah William menelepon polisi untuk mencari Citra yang menghilang. Gia yang diberi pesan singkat oleh Citra, sangat takut karena ia diberi pesan untuk tidak beritahukan pada William mengenai dirinya yang sekarang berada dimana. Jika diberitahukan, Citra akan bunuh diri. Saking takutnya Gia terjatuh dan pingsan. William yang menggendong Gia dan membaringkannya di tempat tidur kamarnya. Seketika William melihat pesan singkat dari Citra untuk Gia. Ia pun langsung melihat pesan itu dan ternyata ada location service dimana Citra berada. Tanpa panjang lebar, ia pun berangkat ke sana dengan membawa sebagian baju lalu berangkat menuju lokasi yang ternyata berada di Bogor. Dengan sigap William langsung menuju ke sana. Beruntung Citra ke sana di saat hari kerja, jika hari libur, pasti jalan sudah padat dan penuh orang banyak. William punya ide yang unik. Ia menginap di tempat yang sama dengan menggunakan nama samaran yaitu Welly. William sengaja datang dan pergi tanpa diketahui oleh Citra, sehingga Citra tidak tahu kalau ia satu penginapan dengan William.

Bersambung.....................................
BAGIAN 6
     Ini adalah kisah yang sungguh semakin menarik. Si Citra yang mau makan malam yang sudah disediakan olehpihak penginapan, mendadak sangat aneh karena di depannya ada sosok pria, memakai jaket hoodie lengkap ditutup dengan topi. Sayangnya, dia sudah sangat cuek dan tak mau mempermasalahkan. Dengan sangat hati-hati si William yang menyamar langsung menutup wajahnya dengan topi sambil memakan makanan yang disiapkan pihak penginapan. Anehnya adalah, si William terus memperhatikan si Citra hingga membuat Citra merasa curiga karena seperti sedang diawasi oleh orang lain. Citra merasa pasti suruhan ayahnya atau suruhan dari Shanti yang gak suka padanya. Arah kamarnyapun sama, hanya bersebelahan dengan kamar Citra. Saat masuk ke kamar, Citra menguping melalui tembok dan mendengar di balik tembok siapa sosok misterius tersebut. Tak ada suara seperti sunyi senyap di balik tembok kamar sebelah. Citra punya satu kebiasaan yaitu selalu mendengarkan lagu yang ia suka yaitu mengenai instrument slow yang menggambarkan mengenai cinta dan kasih sayang. Nama judulnya adalah “First Love” dari Utada Hikaru. Sejak kecil, lagu itu pernah diputar dalam stasiun televisi dalam acara film kartun. Waktu itu, mereka berdua selalu menyukai film kartun yang sama tentang manga dari Jepang. Dan lagu itu terus diingat hingga mereka dewasa. Ternyata, setelah lagunya habis, kamar sebelah ternyata terdengar alunan lagu yang samar-samar sama persis. Dan dimainkan dengan alat musik Harmonika. Seketika Citra bangkit dan mendengar suara itu berasal dari kamar sebelah. Akhirnya ia keluar dair kamar dan mengetuk pintu kamar sebelah itu dan memukul dengan keras sambil berteriak keluar dari kamar pada penghuni kamar sebelah. Mendengar suara itu William langsung menyamar dengan rambut di bentuk klimis ke belakang sambil memakai masker dan seolah seperti orang yang tertular penyakit dalam.
     William yang menyamar pun keluar dan bertanya, siapa yang memainkan alat musik tersebut? Kenapa orang ini tahu lagu itu dan sungguh fasih memainkan nada-nadanya. William dengan terbatuk-batuk menjelaskan kalau ia mendengar dari sebelah kamar yang memutar lagu itu dan baru mendengar pertama kali dan baru bisa memainkan alat musik tersebut. Citra yang masih curiga langsung berfikir yang tahu lagu itu hanya ia dan William saja, dan suaranya juga berbeda dan ditutup oleh masker, belum lagi William mampu memainkan sebagian besar alat musik. Karena curiga yang besar, ia langsung ke lobby tamu dan memeriksa, apakah ada nama William di buku tamu, ternyata tidak ada buku tamu yang bernama William di situ. Uniknya, selang hanya dua hari, ada sosok bernama Welly yang datang di hari yang sama hanya berbeda jam saja. Dan hanya dua tamu itu saja yang datang di penginapan itu di hari yang sama.
     Adanya keraguan dalam diri Citra, membuat ia berbalik dan berusaha untuk mencari tahu siapa yang berada di sebelah kamarnya yang bernama Welly tersebut. Citra kemudian balik ke kamarnya dan bangun di pagi hari demi mengetahui siapa orang yang sedang berada di sebelah kamarnya itu. Rupanya, memang ini yang disiapkan oleh William, yaitu topeng yang terbuat dari make up latex yang membuat pemakainya berasa menjadi orang lain. Itu seperti bentuk topeng tetapi terbuat dari latex sehingga menyamain warna kulit manusia pada umumnya. Citra tentu saja merasa aneh karena ia keluar kamar dengan menggunakan masker. Saat di ruang makanpun, Citra berada di belakang William yang menyamar untuk mengetahui apakah benar ia adalah William atau tidak. Hasil yang didapatkan ternyata tidak berjalan dengan baik dan malah cenderung William berhasil menyamar jadi orang lain saat Citra membuka kedok topi dan masker yang dipakainya.

BAGIAN 7 (FINAL)
     Hal yang rumit yang membuat dirinya kembali menjadi sosok yang mampu mengubah perasaannya dalam 10 menit, menangis, lalu menjadi marah, lalu kembali lagi menjadi senang terus menerus hingga akhirnya tak tahan dan tak ingin merasakannya lagi. Merasa kalau dirinya adalah sosok yang mencintainya dan juga salah dalam memiliki dirinya. Perasaannya berubah bentuk seperti mimik topeng yang berganti-ganti. Alhasil ia terus dalam kondisi yang tidak stabil, mengingat ia tahu bahwa cintanya tak akan bisa dipenuhi karena ia tahu hukum sebagai seorang terapis yang tak boleh jatuh cinta pada pasangannya. Hampir akhirnya membuat ia menjadi gila. Saat itu ia mau keluar dari penginapan, dan hendak mau kembali, ia dan William tak saling mengenal tetapi saling tinggal satu penginapan selama dua minggu lamanya. Kejadian tak terduga seperti ingin apapun yang diminta oleh Citra, selalu ada yang mengabulkan. Saat melihat fisik orang yang menginap di sebelah, rupa mukanya berbeda, tetapi fisiknya yang membuat ia tak tahan dengan perasaan yang terbawa oleh dirinya sendiri. Ia mengingat kejadian apapun sambil menangis dan mengenang di dalam dirinya. Ia ditolong oleh William saat ada bola basket melayang dan nyaris terkena kepalanya, saat dihukum ia membawakan minum untuk Citra sendiri, saat kuliah, ia yang selalu mengantar dan menjemputnya, saat sedih oleh kekasih-kekasihnya, Williamlah yang selalu hadir di dekatnya. Pelukan hangatnya, membuat ia terdiam di gerbang hotel dan bingung dengan perasaan yang ia alami. Meneteskan air mata sambil tertawa seperti sedang dalam kenangan hal yang lucu. Tetapi, menangis sambil tertawa membuat semakin tersiksa batin yang ia alami. Hasilnya, ia melangkah maju untuk mencari Bis menuju Jakarta.
     Hal yang unik lagi adalah sosok yang di sebelahnya menghampiri dirinya dan melepas topi dan masker yang ia pakai, lalu membuka jaket dan memperlihatkan baju lengan panjang bewarna ungu dari merk Giordano yang digulung hingga setengah lengan, Citra yang kaget karena ciri khas lengan panjang yang digulung adalah ciri khas berpakaian William, kemudian pria itu melepaskan topeng yang ia kenakan yang ternyata membuat Citra kaget sosok itu adalah William, kenangan ang meledak terpancar dari Citra, Perasaannya, sentuhan darinya, pelukan hangat yang ia dapat, bahkan sampai sakit dimana hanya ia yang mau merawat sementara ia menolak William karena hanya sebatas teman biasa yang ada di saat ia Cuma butuh saja. Citra semakin bersalah dan merasa bodoh, selama ini, sosok tersebut selalu hadir di dalam sekitar dirinya. Sewaktu SMA sengaja menyamar menjadi pria dari SMA lain agar bisa membantu menyelesaikan tugas akhir makalah dari gurunya. Kuliah menyamar jadi junior agar ia bisa menjaga Citra sewaktu kemping yang diadakan oleh pihak kampus. Skripsi, dibantu olehnya dengan mencari koordinator untuk mengambil lembaran kuesioner darinya. Bahkan sampai kerja, ia membantu menyuruh pihak kantor ayahnya untuk membeli barangnya agar laku keras dan mencarikan model dari teman kampus untuk memakainya sebagai perancang busana pribadi. Semua itu adalah satu orang, William. Namanya yang tak pernah bisa terhapus sejauh apapun Citra pergi. Inilah William, selalu hadir untuknya. Ia mengatakan tak peduli dengan kode etik karena ia ada untuk dirinya. Dan akhirnya, Citra mau menerima William, walau tahu kode etik sumpah Psikologi yang dipunya William, menjadi tak berlaku olehnya.
     Akhirnya, mereka berpacaran, dan bekerja dengan masing-masing profesi, selepas kerja, mereka berusaha untuk saling ketemu, dan Citra bicara pada William keadaan yang ia alami sembari makan malam atau nongkrong bersama. Citra merasa lebih nyaman menceritakan perlahan gangguan yang ia alami, dijalani dengan baik melalui terapi yang diberikan William. Semangat cinta dari William, membuat semakin kuat keinginan Citra untuk sembuh dan mau terapi untuk menghilangkan apa yang sebut ia katakan sebagai kutukan. Semua mereka jalani, sampai akhirnya orang tua yang menjadi sahabat mereka memutuskan untuk menikahkan William dan Citra, dan mereka memutuskan untuk menikah muda dan ingin menjalani hidup hanya berdua, walau nanti anaknya punya gangguan, William siap untuk menterapi anaknya sendiri dan Citra siap untuk mendukung William dari belakang. Hmmm nasib Shanti dan Kira? Tentu saja, Shanti menjadi orang yang depresi berat karena merasa dipermalukan William dan ditinggalkan olehnya sampai bingung tak bisa mencari William dan kehilangan akal sehat. Maklum, Shanti hanya mau menikmati indahnya tubuh William. Smeentara Kira? Menjadi sosok yang menakutkan di kalangan wanita. Saking tak bisa meniduri Citra, ia menjadi sosok yang tak bisa menahan gejolak seksnya untuk diuji coba pada wanita yang ia kenal. Sungguh tragis, tapi itu setimpal dengan apa yang mereka katakan sebagai bagian dari karma. Sekian untuk kisah hari ini....

SELESAI

Tidak ada komentar: