There is no magic who makes instant in this world. Magic is just a science to speeds up all something and make everything is easy.Then do magic itself? the world that we have created without there bound from others. Everyone else is just a portion of rebellion and some of the main support. The world we want to make the rest of the colors, ourselves. And Welcome to the world magic created by a writing and the work of from me.
Kamis, 04 Desember 2014
Kisah saya dan pewawancara
Kisah ini berawal dari orang yang mewancarai saya 3 hari yang lalu, katanya mau tahu karena setiap saya menulis artikel, kisahnya menarik dan lumayan untuk disimak. Mulai dari pertanyaan pertama "ris, cara hidup kamu kayak apa sih?" Inilah jawaban saya; "saya itu hidup cuma dengan 2 tahap yaitu cuek dan tidak anggap ada". Lalu si pewawancara itu kembali bertanya dan menasehati; "bukankah hidup cuma 2, memakai logika dan perasaan? Kalau yang aris jawab sadis dong semuanya jelek dan cenderung parah sekali. Lalu saya kembali jawab; " hidup dengan perasaan aja, itu maunya diri sendiri tanpa pentingin kewajiban orang lain, kalau logika ya kembali ke penjelasan perasaan tadi hanya ditambah dengan satu makna yaitu, "masa bodo sama masalah lo, gw yg harus jadi utama". Nah kalau sudah begitu, siapa yg patut disalahkan?". Kemudian dia mencatat dengan wajah tercengang seolah mendengar kata yang belum dia ucapkan sebelumnya. Lalu ia kembali bertanya; "oke ris kita masuk ke pertanyaan berikutnya, menurut aris dalam hidup apa yang harus diutamakan?" Dari pertanyaannya saya langsung menjawab; "yang harus diutamakan adalah karir dan orang tua saya. Dari situ saya belajar dari seseorang dimana keluarganya adalah hal utama dan orang lain entah siapapun itu yg paling dekat dengannya sekalipun tidak peduli karena keluarga benar dan orang lain salah." Kemudian si pewawancara bertanya heran; "lho kok gitu?" Lalu saya tersenyum dan kembali jawab; "tentu, orang tua maupun keluarga dekat adalah orang yang paling dipercaya, umpamanya saat seorang anak dijelekkan orang lain lewat apapun itu, siapa orang tua atau keluarga yang tahan digituin? Sakitnya tuh di sini nih. Meski keluarga dekat atau orang tua sudah mengenal semua yg dekat dengan kita, belum tentu mereka percaya. Contoh keluarga angkat saya dan orang tua kandung saya, selalu mengatakan berikan hanya 10% kepercayaan untuk orang lain. Dunia ini bukanlah sesuatu yg jujur, semua bisa menyerang dan buka aib orang lain kapanpun." Mendengar hal itu si pewawancara hanya melotot dan lupa menjawab apa yang saya jawab barusan seolah wajahnya terkesima. Seketika dia beralih dengan pertanyaan berikutnya; "o...oke ris, pertanyaan selanjutnya, menurut aris, pandangan mengenai lelaki dan wanita di Indonesia kayak apa sih?" Hal ini yang membuat saya tertawa dan menjawab; "memang aneh, pertama dari wanita yang menilai pria itu cuma ada 3, 1) pembohong; 2) tukang selingkuh atau brengsek; 3) gay. Lalu kemudian pria juga menilai wanita ada 4, 1) pemeran drama; 2) tukang fitnah; 3) perampok atau matre; 4) penyebar aib atau pembuka rahasia orang lain alias hobi menjelekan orang lain. Dari situ saya langsung mengatakan kepada mereka, kalau ibu dan bapaknya masuk kategorinya yah? Orang yang mengatakan seperti itu, sama saja dengan mengatai orang tuanya sendiri. Lucunya, setelah orang mengatakan hal itu mereka baik pria maupun wanita langsung mengeles dan mengatakan bahwa apa yang dikatakan tadi kecuali untuk keluarga dan sahabat. Bagi saya, apa yang sudah dikatakan tidak bisa diperbaiki lagi, umpama sepiring yang dibanting ke tanah dan pecah, lalu saat mengatakan "maaf" apakah akan kembali seperti semula? Kalau sudah mengatakan dengan pakai kata "kecuali" maknanya kosong dan gak ada artinya. Saya hanya bisa mengatakan kalau mencari yang sama persis atau sempurna layaknya orang tua atau di film2, pacarin aja Tuhanmu sendiri, beranikah? Semua yang diciptakan Tuhan memang tidak sempurna, itulah tugas beda jenis kelamin untuk saling melengkapi satu sama lain." Pewawancara itu menulis dengan sangat cepat layaknya tulisan resep dokter. Luar biasa bagi saya jika bisa membacanya. Lalu ia kembali bertanya dengan pertanyaan akhir dan ending eng...ing...eng yang saya tahu ini mengarah kemana. Dannnn pertanyaannya adalah; "kalau cinta menurut aris sendiri dan nuansa asmara juga mengenai konflik dengan sekitar dari aris sendiri bisa share gak?" Saya kembali tertawa kencang dan langsung menjawab; "saya bukan orang yang minta ini itu dengan kondisi saya ingin dan harus ada. Kalau saya bisa bantu ya saya akan bantu. Saya tipikal yang mudah trauma. Saat punya satu kesalahan saya minta maaf, tetapi jika orang tersebut yang punya salah, sulit bagi saya untuk memaafkan atau memperhatikannya atau menganggapnya. Selama tidak menyadari ya tidak akan mau cerita atau anggap sampai orang itu sendiri yang sadar. Memang bagi saya adalah hal yang egois tapi saya sudah katakan saya bukan sosok sempurna, sekali dihajar lewat mental dengan kondisi orang tersebut gak bisa diajak baik2 ya bye maksimal. Terserah mau orang mau anggap apa. Toh saya sudah tidak mau publish sekedar menyindir ke orang yang saya tuju dengan tujuan cari perhatian, bagi saya cari perhatian katakan langsung bukan katakan melalui perantara atau dari belakang. Beda dengan prang yang "mancing" kita. Kenapa? Kalau memancing butuh umpan kan? Dan orang yang sudah terpancing males untuk menanggapi dan akhirnya pergi meninggalkannya karena lelah menanggapi dengan cara yang sama seperti orang itu memancing kita. Sama saja menjadi dia kan kalau bales sindiran atau ikut memancing? Mungkin sedikit melenceng dari nuansa asmara romantis dan unsur perfect beri perhatian 100% karena saya punya masa depan lebih dari itu. Umpama ketika saya menikah nanti bukan pasangan yg akan saya perhatikan lagi, tapi anak dari hasil saya dan pasangan karena apa? Kepuasan bagi pasangan bisa saya beri tapi tanggung jawab ke anak? Tidak bisa diputar balik. Orang tua mengajarkan saya untuk mencoba bertanggung jawab dengan anak kecil sedari saya masuk bangku perkuliahan. Bagi saya asmara nuansa kisah percintaan ya hanya sebatas melayani dan siap membantu sekedar kita mampu, jika tidak bisa katakan tidak bisa. Jika orang mengatakan tidak berguna atau mengatakan banyak alasan ya itu urusan hidupnya karena ini jalan kisah saya. Lebih baik mengenal saya secara langsung daripada mengenal dari orang lain. Pandangan orang itu bisa general bisa juga beda2" Kemudian pewawancara itu tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih banyak atas jawaban saya yang katanya sungguh lengkap. Ya dia bertanya dengan kondisi cepat dan terstruktur. Tapi, untuk yang saya tulis, hanya ini yang bisa saya publish. Selebihnya mah itu pertanyaan pribadi yang saya tak bisa publish. Saya juga senang jika ada orang seperti pewawancara tersebut yang sopan dan santun dalam bertanya. Padahal tulisan saya bukan apa2 dan masih cetek atau kelas rendah. Tapi kesimpulan yang bisa saya ambil adalah; "gak peduli mau orang itu menyindir atau mencari perhatian seperti apa. Yang jelas, gak perlu memutar balik atau sekedar tuduh tanpa sebab alasan jelas layaknya pria dan wanita yang menilai dengan caranya masing2. Hidup yang saya jalani dengan beragam masalah hanya saya yang mampu menyelesaikannya tanpa perlu cerita hal yang jelek2 mengenai orang lain ke orang tua kita. Lurus dengan tujuan yang ingin dicapai. Setelah sampai, masih banyak cabang dari lurusan tersebut yang akan mengarahkanmu kepada apa yang mau kamu tuju. Gak perlu cemas dengan orang yang menilai kamu jelek atau gak peduli, yang penting gak ikut dalam menjelekkan atau putar balik fakta dimana kamu punya bilang tak punya, kamu marah bilangnya orang lain yang marah. Hal yang ingin kamu capai biarlah kamu yang tentukan, gak usah ubrik urusan orang lain. Setelah orang itu tahu salahnya atau kembali menyalahkanmu, cukup dengarkan dan penuhi apa maunya. Jangan sia2kan umur hanya untuk jelekkan atau fokus hadapi masalah dengan orang lain. Kamu dengan hidupmu, jalani dengan caramu dan penuhi keinginan dengan pemikiran apa yang kamu buat tanpa melukai orang lain. Jika orang itu membalas dengan hujatan besar, anggaplah dia sedang cari perhatian dan gak mau kalah. Jadi diri sendiri tanpa perlu orang lain berkata apa. Inilah jalanku, ini hidupku." Sampai di sini deh yang bisa di share.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar